Olimpiade Membaca APBN, perlukah?
Memang sih APBN itu kan anggaran yang punya negara. Lalu emang gua pikirin gitu loch. Buat apa? Eits tunggu dulu. Negara punya uang dari mana? Mmm…ada yang dari pajak, bea masuk, cukai, sumber daya alam, laba BUMN dll. Trus pajak dst itu dari siapa? Dari rakyat. Lalu, Anda di negara ini sebagai apa? Ya jelas tho sebagai rakyat. Jadi, uang negara ini dari Anda juga kan? Eits, iya ding. Jadi, tidak ada alasan bagi rakyat untuk buta APBN.
Biro Humas Depkeu telah mengadakan Olimpiade membaca APBN. Pesertanya adalah siswa SMA dari seluruh Indonesia. Tahun ini pemenangnya adalah delegasi dari Makassar. Acara ini patut diapresiasi dan dilestarikan. Mengingat masih banyaknya masyarakat kurang mengerti mengenai APBN itu sendiri. Teringat pada waktu saya berkunjung di sebuah instansi swasta. Di sana tergeletak brosur sunset policy keluaran Direktorat Jenderal Pajak. Tidak asing lagi, karena unit kerjaku baru mengadakan acara kampanye sunset policy bekerja sama dengan Direktorat P2Humas DJP. Saya langsung tanya kepada seorang karyawati di sana. “Mbak, koq ada brosur ini, dari mana?”, tanyaku. “Oh, itu Mas, disuruh bikin NPWP, gaji sakuprit aja disuruh bayar pajak?”, jawabnya dengan sedikit mengungkapkan kejengkelannya.
Kejengkelan itu bukan berarti ia tak tahu landasan bagaimana pajak diterapkan di negara ini, khususnya penggunaannya. Jadi perlu edukasi bagi publik agar mengerti latar belakang pemerintah mengeluarkan suatu kebijakan publik, khususnya yang menyangkut keuangan negara. “Mbok negara ngasih subsidi bagi rakyat…!” tambahnya. Keningku langsung berkerut menerka-nerka sebab kenapa ia bisa ngomong seperti itu. Mungkin maksudnya subsidi BBM. Tapi, bukankah masih ada BBM yang disubsidi meskipun dikurangi. Bahkan di beberapa fungsi pelayanan pemerintah yang lain, pemerintah menambah subsidinya, misalnya pendidikan dan kesehatan.
Saya sendiri maklum, dari sisi kesehariannya, dia jauh dari hal-hal yang berkaitan dengan APBN. Itu merupakan satu dari beberapa pengalaman yang aku temui mengenai kesalahpahaman masyarakat terhadap pengelolaan keuangan negara kita. Memang sistem yang ada sekarang mungkin belum sempurna, tapi proses perbaikan terus menerus dilakukan karena memang sudah seharusnya demikian. Never ending learning.
Kemampuan siswa SMA dalam menjawab pertanyaan mengenai APBN patut diacungi jempol. Padahal, mungkin mereka hanya mendapat pelajaran mengenai APBN di sekolahnya hanya pada mata pelajaran ekonomi, itu pun mungkin hanya satu atau dua bab saja. Berbeda dengan mahasiswa fakultas ekonomi yang mendapat mata kuliah ekonomi makro, ilmu ekonomi yang membahas kegiatan/ sistem ekonomi dari sudut pandang suatu negara dan pemerintah menjadi salah satu pelakunya. Apalagi mahasiswa STAN spesialisasi Kebendaharaan Negara (dulunya Anggaran) yang mungkin sampai bosen mendengarkan ceramah dosen tentang APBN, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pelaporannya. Maka jangan heran jika sebagian dari mereka tertidur di kelas dengan pulas dan puas (termasuk yang nulis ini) he7. Semoga para dosen memaafkan dosa-dosaku ini.
Read Full Post | Make a Comment ( None so far )


